LOMBA ARTIKEL “SISI LAIN R.A KARTINI UNTUK KARTINI MILENIAL”OLEH Ahmad Darmawan

R.A Kartini merupakan seorang pahlawan wanita bangsa, yang lahir di Jepara, 21 April 1879. R.A Kartini merupakan anak dari ayah Raden Mas Adipati Ario Sosroningrat, seorang patih yang diangkat menjadi bupati Jepara dan ibu M.A. Ngasirah. Kartini merupakan anak ke-5 dari 11 bersaudara, ia merupakan anak perempuan tertua, ia bersekolah di Europeesche Lagere School (ELS). Di sini Kartini belajar bahasa Belanda, sayangnya hanya sampai usia 12 tahun sebab pada usia 12 tahun ia harus tinggal dirumah karena sudah bisa dipingit.

Sisi lain R.A Kartini yang tidak banyak orang ketahui bermula pada usia 13 tahun. Dimana, R.A Kartini penasaran akan agama islam yang dianut oleh kedua orang tuanya, tentang kitab suci Al-Qur`an utamanya. Ia merasa tidak mengerti apa yang harus di ceritakan mengenai agamanya sebab pada masa itu islam melarang umatnya mendiskusikan agamanya dengan umat lain. Ia merasa tidak mengerti bagaimana cara untuk mencintai agamanya sendiri sebab ia beragama islam karena mengikuti nenek moyangnya dan ia sendiri tidak mengerti serta tidak boleh memahami agamanya. R.A. Kartini pada saat itu juga berfikiran bahwa Al-Qur’an terlalu suci, tidak boleh diterjemahkan ke dalam bahasa apapun agar bisa dipahami setiap muslim. Pada masa itu tidak ada orang yang mengerti bahasa Arab, saat itu banyak orang belajar Al-Qur’an tapi tidak memahami apa yang dibaca. R.A Kartini menganggap itu sama halnya dengan oarang menyuruh untuk menghafal bahasa Inggris, tapi tidak memberi artinya. Hingga Ia berfikiran bahwa, tidak jadi orang soleh pun tidak apa-apa asalkan jadi orang baik hati.

Sampai R.A. Kartini mengirim surat kepada istri Direktur Pendidikan Agama dan Industri Hindia Belanda Nyonya Abendanon. Dalam surat tertanggal 15 Agustus 1902 dalam buku Habis Gelap Terbitlah Terang itu, Kartini menuliskan, tak mau lagi mempelajari Al-Qu’ran. “Dan waktu itu aku tidak mau lagi melakukan hal-hal yang tidak tahu apa perlu dan manfaatnya. Aku tidak mau lagi membaca Al-Qu’ran, belajar menghafal perumpamaan-perumpamaan dengan bahasa asing yang tidak aku mengerti artinya,” tulis dia. “Jangan-jangan, guruku pun tidak mengerti artinya. Katakanlah kepada aku apa artinya, nanti aku akan mempelajari apa saja. Aku berdosa. Kitab ini terlalu suci, sehingga kami tidak boleh mengerti apa artinya,” kata Kartini.

Keresahan yang selama ini terpendam dalam pikiran Kartini kini menemui muaranya. Dia dipertemukan dengan seorang ulama bernama Kiai Sholeh Darat. Alkisah, keduanya bertemu dalam pengajian di rumah Bupati Demak yakni Pangeran Ario Hadiningrat, yang juga paman Kartini. Dengan seksama Kartini memperhatikan ketika Kiai Sholeh memberikan penjelasan terhadap tafsir surat Al Fatihah, yang merupakan surat pembuka dalam kitab suci Al-Qu’ran. Mendengar penjelasan tersebut hati Kartini tergetar setelah mengetahui apa yang ia dengar dari Kiai tentang isi dari tafsir yang terkandung dalam surat Al Fatihah. Kisah ini berlanjut begitu pengajian usai, Kartini segera menemui pamannya. Ia menyampaikan keinginan bertemu Kiai Sholeh untuk berguru. Bahkan Kartini mendesak pamannya untuk menemani dirinya untuk menemui sang ulama. Hal tersebut lantaran keingintahuan Kartini yang begitu besar.

Seketika Pamannya menyanggupi dan menuruti untuk mengantar Kartini ke rumah sang Kiai. Pamannya begitu terenyuh melihat Kartini yang begitu besar rasa ingin belajarnya terhadap agama.

Mereka berdua akhirnya sampai ke kediaman Kiai dan terjadilah dialog yang menyadarkan sang Ulama terhadap pentingnya terjemahan Al-Quran sehingga dapat dipahami dan dimengerti oleh umat islam di Indonesia. “Kiai, perkenankan saya bertanya bagaimana hukumnya apabila seorang berilmu, namun menyembunyikan ilmunya?” tutur Kartini membuka dialog dengan Kiai Sholeh Darat setelah berbasa-basi lazimnya orang Jawa. Kiai Sholeh malah balik bertanya, “Mengapa Raden Ajeng mempertanyakan hal ini? Kenapa bertanya demikian?”.
Kemudian Kartini mengungkapkan kekagumannya terhadap Al-Quran dan sekaligus keresahannya yang selama ini tidak sesuai dengan pola pikirnya, “Kiai, selama hidupku baru kali ini aku berkesempatan memahami makna surat Al Fatihah, surat pertama dan induk Al-Quran. Isinya begitu indah, menggetarkan sanubariku,” jawab Kartini. Kartini lalu menyampaikan rasa syukurnya kepada Allah diberi kesempatan memahami Al Fatihah. Kyai Sholeh tertegun. Kiai kharismatik itu tak kuasa menyela. “Namun, aku heran mengapa selama ini para ulama melarang keras penerjemahan dan penafsiran Al-Quran ke dalam bahasa Jawa. Bukankah Al-Quran adalah bimbingan hidup bahagia dan sejahtera bagi manusia?” ucap perempuan bangsawan itu.

Perempuan bangsawan itu mengusulkan untuk Kiai Sholeh menafsirkan Al-Qur’an kedalam bahasa jawa agar untuk pegangan teman-temannya putri-putri jawa. Di sini R.A. Kartini menyebut putri-putri jawa karena pada saat itu belum tercipta nama Indonesia. Hingga akhirnya peristiwa itu menggugah kesadaran Kiai Sholeh untuk melakukan pekerjaan besar, menerjemahkan Alquran ke dalam bahasa Jawa. Setelah pertemuan itu, Kiai Sholeh menerjemahkan ayat demi ayat, juz demi juz. Hingga pada akhirnya sebanyak 13 juz berhasil ditafsirkan ke dalam bahasa jawa oleh Kiai Sholeh, sekaligus tafsiran tersebut menjadi hadiah perkawinan dari R.A Kartini. Kitab tafsiran Kiai Sholeh usul R.A. Kartini pertama kali di cetak di Singapura dengan judul “Faidur Rahman fii Tafsiri Qur’an”, kemudian oleh Litbang Kementerian Agama menyatakan kitab tersebut sebagai tafsir pertama di Asia Tenggara. Kitab tersebut hanya memuat 13 juz dikarenakan setelah selesai mentafsirkan juz 13 Kiai Sholeh Darat meninggal dunia.

Pada tahun 2021 ini, hari kartini bertepatan dengan bulan Ramadhan yang konotasinya adalah bulan suci dengan sejuta ibadah didalamnya. Jika dikaitkan dengan milenial jaman sekarang, kebanyakan dari pemudi-pemudi sekarang memaknai hari kartini dengan kelemah lembutan sedangkan sisi lain R.A Kartini kurang mereka pahami. Terlebih mereka memilih untuk mempercantik diri, padahal R.A Kartini bukan hanya wanita yang cerdas dan pejuang dalam mengedepankan emansipasi wanita, namun juga wanita yang memiliki keteguhan dalam beribadah dan kepedulian dengan agamanya. Alangkah baiknya jika Kartini Milenial tidak hanya memiliki pikiran yang cerdas tetapi juga memiliki sisi religius yang tinggi.

NAMA : AHMAD DARMAAN D3 RMIK 2B

LINK PEMVOTINGAN ARTIKEL :https://forms.gle/uRiooofSi6MaryST6

Leave a Comment

Your email address will not be published.